Home > ARTIKEL ILMU > Peringatan Nuzulul Qur’an

Peringatan Nuzulul Qur’an

Urgensi Al-Qur’an dalam Kehidupan Muslim
(Refleksi Peringatan Nuzulul Qur’an)
Oleh: Ustadz Muladi Mughni, Lc.

Pada malam hari di bulan ramadhan yang mulia ini, kita tengah memperingati
malam Nuzulul Quran. Di mana “mayoritas” ulama berpendapat bahwa saat
diturunkannya wahyu pertama al-Quran yaitu terjadi pada bulan suci
ramadhan. Hal ini juga diperkuat dengan firman Allah swt dalam surat
al-Qadr (1-5).

Sekalipun mayoritas ulama berpendapat turunnya al-Qur’an terjadi pada
bulan suci Ramadhan, namun hal ini tidak menyampingkan adanya perbedaan
pendapat seputar tanggal atau waktu turunnya al-Qur’an tersebut. Ada di
antara sahabat Nabi dan ulama yang meriwayatkan bahwa Nuzulul Qur’an
terjadi pada tanggal 17 ramadhan, ada pula yang mengatakan 21, dan adapula
yang berpendapat tanggal 23, 24 dan seterusnya. Kenapa terjadi perbedaan
di antara para sahabat tentang persisnya tanggal Nuzulul Qur’an tersebut.
Hal ini dapat dijawab, bahwa memang tidak ada keterangan resmi yang datang
dari baginda rosulullah saw mengenai kapan tepatnya tanggal diturunkannya
al-Qur’an tersebut. Sehingga semua perkataan dan pendapat yang sempat
ditulis oleh ulama adalah murni hasil ijtihad dan pendapat para sahabat
belaka. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menuliskan, bahwa
terdapat kurang lebih 40 pendapat ulama seputar kapan Nuzulul Qur’an
tersebut.

Dalam sebuah riwayat, pernah dinyatakan bahwa baginda ralulallah saw
hendak menyampaikan berita gembira tentang kapan kah tepatnya malam
Nuzulul Qur’an atau Lailatul Qadr tersebut. Namun ketika beliau hendak
menyampaikan berita tadi, tiba-tiba terdapat dua orang sahabat yang tengah
bertengkar sengit di dalam masjid Nabi, maka melihat kejadian tersebut
maka rasulullah enggan menyampaikan kabar berita tersebut, atau tepatnya
keinginan untuk menyampaikan itu tiba-tiba sirna ketika melihat kejadian
tersebut.

Namun demikian, sesungguhnya dengan tidak jadinya rasulallah mengabarkan
berita di atas, terdapat hikmah yang laur biasa bagi ummat seluruhnya;
yaitu, agar kita senantiasa bersungguh-sungguh mencari kapan tepatnya
malam tersebut tiba. Dengan tidak adanya kabar yang pasti tentang malam
Nuzulul Qur’an ini, seharusnya membuat kita tidak bermalas-malas dalam
mencari anugerah malam tersebut. Justru dikhawatirkan jika kita telah
mengetahui pasti waktu malam Nuzulul Qur’an tersebut, malah kita hanya
mengandalkan hari itu untuk beribadah kepada Allah, sementara pada
waktu-waktu lainnya kita tinggalkan tanpa nilai ibadah sedikitpun. Tentu
hal ini amat sangat bertolak belakang dengan semangat ramadhan yang
merupakan bulan yang tidak hanya menuntut keimanan kita, namun juga
keihlasan hati kita untuk beribadah selama satu bulan penuh, atau dalam
bahasa agamanya biasa kita kenal dengan istilah “al-iman wa al-ihtisab.”

Lalu bagaimana sejarahnya, kenapa kita dan khususnya masyarakat muslim
Indonesiamemperingati Nuzulul Qur’an ini pada tanggal 17 ramadhan seperti
saat sekarang.? Ternyata jika kita membaca sejarah bangsa kita, peringatan
Nuzulul Qur’an yang jatuh pada tanggal 17 ramadhan ini tidak lepas dari
gagasan H. Agus salim dan persetujuan Bung Karno (Presiden RI pertama).
Seperti yang kita maklum bahwa bangsa kita mendeklarasikan kemerdekaannya
pada tanggal 17 Agustus 1945, Maka sebagai rasa syukur yang tiada
terhingga atas nikmat kemerdekaan ini pula, maka perayaan Nuzulul Qur’an
disamakan tanggalnya yaitu sama-sama mengambil angka 17 bulan ramadhan.
Seakan-akan para fouding fathers kita hendak mengatakan bahwa, mensyukuri
nikmat kemerdekaan, tidak kalah dengan mensyukuri nikmat turunnya
al-Qur’an sebagai petunjuk dan pedoman ummat Islam. Maka mulai saat itu
-di zaman Bung Karno- sampai sekarang peringatan nuzulul Qur’an senantiasa
diperingati di istana Negara pada tanggal 17 ramadhan dan kerap diikuti
oleh sebagian besar ummat muslim di Indonesia. Untuk lebih detailnya
silakan dilihat sebuah buku “Bung Karno dan Wacana Islam” (Kenangan 100
Tahun Bung Karno)

Saudara-saudara sekalian yang dimuliakan oleh Allah swt.

Sebetulnya jika kita telusuri keterangan yang berasal dari Hadits nabi
Muhammad, bulan suci ramadhan ini tidak hanya dikhususkan bagi turunnya
al-Qur’an saja. Namun juga bagi kitab-kitab ummat yang terdahulu, seperti,
Injil, Taurat, Zabur dan Shuhuf Ibarahim, seluruhnya Allah turunkan di
bulan suci ramadlan ini. Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad
RA:

“ Shuhuf Ibrahim diturunkan pada awal bulan ramadhan, kemudian Taurat
pada tujuh bulan ramadlan, lalu Injil pada 13 ramadlan, sedangkan
al-Qur’an pada 25 ramadlan.”

Sekalipun seluruh kitab-kita samawi itu sama-sama diturunkan pada bulan
suci ramadhan, namun terdapat beberapa kelebihan al-Qur’an di banding
kitab-kitab yang lainnya. Paling tidak kelebihan tersebut dapat dilihat
dalam beberapa hal:

1. Bahwa seluruh kitab-kitab samawi Allah turunkan secara sekaligus,
sedangkan al-Qur’an Allah turunkan secara berangsur-angsur.
2. Seruan atau petunjuk yang terdapat dalam kitab-kitab samawi terbatas
pada ummat saat kitab tersebut diturunkan, sedangkan al-Qur’an petunjuk
dan seruannya tidak terbatas pada saat al-Qur’an itu diturunkan, namun
mencakup seluruh manusia sampai dengan hari kiamat, bahkan termasuk juga
bangsa Jin.
3. Seluruh kitab-kitab samawi tersebut mengalami pemalsuan, distorsi,
bahkan hilang sama sekali dari muka dunia, sampai-sampai sekarang kita
tidak dapat melihat wujud aslinya, sedangkan al-Qur’an terjaga dari segala
bentuk pemalsuan dan penyelewengan seperti di atas.

Terdapat suatu riwayat menerangkan (baca: kitab Muwafaqat, Imam Syatibi,
Kitab Maqasid. H. 42), kenapa kitab-kitab samawi mengalami penyelewengan
atau pemalsuan sedangkan al-Qur’an terjaga dari semua hal itu. Maka
dijawab oleh Qadhi Abu Ishaq Ismail bin Ishaq, bahwa berkenaan dengan
kitab-kitab terdahulu kenapa sempat terjadi pemalsuan dan penyelewengan,
hal itu karena Allah berfirman dalam al-Qur’an: “Sebagaimana Allah
memerintahkan mereka untuk menjaga Kitab Allah (Al-Maidah: 44). Ayat ini
mengandung pengertian bahwa, keutuhan dan keotentikan kitab suci mereka
“murni” tergantung pada usaha mereka untuk menjaganya. Sedangkan pada
al-Qur’an Allah tidak berkata demikian, akan tetapi “ Sesungguhnya Kami
telah turunkan al-Qur’an dan Kami pula yang akan menjaganya” (al-Hijr: 9).
Artinya, keutuhan dan keotentikan Al-Qur’an tidak semata-mata murni usaha
manusia atau umat muslim saja, namun juga terdapat interfensi Allah Swt
atasnya. Maka sangat wajar, jika sesuatu yang dilandaskan pada kekuatan
yang berasal dari Allah sendiri, akan berbeda dengan kekuatan yang hanya
berasal dari manusia saja.
4. Kelebihan “surat” al-Quran atas “surat-surat” kitab terdahulu. Para
ulama tafsir berkata: “Al Quran lebih unggul dari kitab-kitab samawi
lainnya sekalipun semuanya turun dari Allah, dengan beberapa hal,
diantaranya: jumlah suratnya lebih banyak dari yang ada pada semua
kitab-kitab yang lain. Telah disebutkan dalam sebuah hadis bahwa Nabi
kita Muhammad saw. diberi kekhususan dengan surat Al-Faatihah dan penutup
surat Al-Baqarah. Di dalam Musnad Ad Darimi disebutkan, dari Abdullah bin
Mas’ud ra. ia berkata: “Sesungguhnya Assab’uthiwal (Tujuh surat panjang
dalam Alquran; Al-Baqarah, Ali-Imran, An-Nisaa,, Al-A’raaf, Al-An’aam,
Al-Maa-idah dan Yunus) sama seperti taurat, Al-Mi’in (Surat-surat yang
berisi kira-kira seratus ayat lebih, seperti Hud, Yusuf, Mu’min dan lain
sebagainya) sama seperti Zabur dan Al-Matsani (Surat-surat yang berisi
kurang dari seratus ayat. Seperti, Al-Anfaal, Al-Hijr dan lain
sebagainya) sama dengan kitab Injil. Dan sisanya merupakan tambahan”.
Dikeluarkan oleh Imam Ahmad dan Thabrani, dari Wasilah bin Al-Asqa, bahwa
Rasulullah saw. bersabda: “Telah diturunkan kepadaku Assab’uthiwal sebagai
ganti yang ada pada Taurat. Diturunkan kepadaku Al Mi’in sebagai ganti
yang ada pada Zabur. Diturunkan kepadaku Al Matsani sebagai ganti yang ada
pada Injil, dan aku diberi tambahan dengan Al Mufashshal (surat-surat
pendek).
Saudara-saudara sekalian yang dirahmati oleh Allah Swt.

Sebagaimana tema kita yaitu, apa urgensi al-Qur’an dalam Kehidupan Muslim.
Namun sebelumnya perlu saya sampaikan bahwa sekalipun isi al-Quran banyak
menceritakan tentang kisah-kisah ummat terdahulu, akan tetapi al-Qur’an
bukanlah kitab sejarah, atau sekalipun al-Qur’an sering menggambarkan alam
kosmos beserta galaksinya, akan tetapi al-Quran tidak dapat kita sebut
sebagai kitab astronomi. Atau sekalipun al-Quran sering mengupas tentang
bentuk penciptaan manusia secara detail dan juga penciptaan alam raya ini,
akan tetapi al-Quran bukanlah kitab pengetahuan Alam atau fisika.
Melainkan yang tepat adalah al-Quran sebagai kitab hidayah atau petunjuk
bagi seluruh alam. Jadi sekiranya terdapat cerita atau gambaran tentang
hal-hal yang bertalian dengan geografi, sejarah, fisika, kedokteran dan
lain-lain, hal tersebut hanyalah berfungsi sebagai bukti dan penjelasan
untuk mencapai kepada satu tujuan hidayah yang Allah maksud tadi. Maka
dari itu, terdapat beberapa syarat agar kita dapat menemukan hidayat yang
dimaksud oleh Allah swt dalam kandungan yang terdapat dalam al-Qur’an.

Yang pertama: Kita harus terlebih dahulu membaca al-Quran tersebut secara
seksama, hal ini sebagaimana pesan wahyu pertama dalam surat al-Alaq, yang
berbunyi (Iqra’) atau bacalah.!

Yang kedua: Kita harus memahami isi dan kandungan yang terdapat dalam
surat dan ayat yang kita baca tadi. Hal ini disebabkan membaca saja tidak
cukup untuk mengetahui rahasia kandungan dan maksud yang Allah maksud
dalam al-Qur’an tersebut.

Yang ketiga: Setelah kita memahami isi dan kandungan al-Qur’an barulah
kita mengajarkan kepada orang lain, agar orang lain pun dapat membaca dan
memahami al-Quran secara baik. Sebagaimana hadits nabi yang diriwatkan
oleh Usman bin Affan ra. dari Nabi saw. ia bersabda; “Sebaik-baik kalian
adalah yang belajar Alquran dan mengajarkannya kepada orang
lain”.(Bukhari) . Al hafiz Ibnu Katsir dalam kitabnya Fadhail Quran halaman
126-127 berkata: Maksud dari sabda Rasulullah saw. “Sebaik-baik kalian
adalah orang yang belajar Alquran dan mengajarkan kepada orang lain”
adalah, bahwa ini sifat-sifat orang-orang mukmin yang mengikuti dan
meneladani para rasul. Mereka telah menyempurnakan diri sendiri dan
menyempurnakan orang lain. Hal itu merupakan gabungan antara manfaat yang
terbatas untuk diri mereka dan yang menular kepada orang lain.

Yang keempat: Mengamalkan ajaran dan kandungan yang terdapat dalam
al-Qur’an. Pada tahap pengamalan inilah yang sangat berat, sebab
pengetahuan yang didapat akan tidak berguna jika tidak dibarengi dengan
pengamalan dalam prilaku dan perangai kita setiap harinya.

Saudara-saudara sekalian yang dirahmati oleh Allah swt.

Dari keempat syarat ini barulah al-Qur’an akan dapat dirasakan manfaatnya
oleh kita semua, oleh sebab al-Quran merupakan kitab petunjuk/hidayah.
Apalagi jika kita benturkan dengan kebutuhan hidup saat ini. Di mana
setiap orang dengan segala kemajuan dan kecanggihan yang dicapai oleh
manusia, justru malah mereka mencari suatu sistem nilai yang mereka anggap
absolut. Kita sebagai ummat Islam tentu tidak perlu lagi meragukan apalagi
mencari-cari sistem nilai lagi kecuali pada al-Qur’an itu sendiri. Perlu
dicatat bahwa kemunduran ummat Islam bukan terletak pada inti ajaran
al-Qur’an atau disebabkan ummat Islam setia pada ajaran al-Qur’annya,
sehingga alam pikir dan daya kreatifitas mereka terhambat oleh al-Qur’an,
akan tetapi justru dikarenakan faktor budaya dan ummat Islam malah sedikit
demi sedikit telah menjauhkan dari al-Qur’an.

Satu contoh, sangat ironis memang, di saat ajaran al-Quran menganjurkan
kepada ummatnya untuk membaca, namun kenyataannya Negara dan ummat yang
terbesar buta hurufnya justru adalah ummat Islam. Dapat kita lihat pula,
terkait dengan minat baca umat Islam Indonesia, dan orang Indonesiasecara
umum sangatlah lemah. Namun sebagai negara dengan penduduk beragama Islam
terbesar di dunia, adalah ironis bahwa Muslim Indonesiabelum mampu
menerjemahkan wahyu pertama dalam kehidupan sehari-hari. Di belahan lain
dunia Islam, kondisinya lebih baik. Di Indiadan Iran misalnya. Di kedua
negara tersebut tradisi keilmuan yang memang telah lama mengakar terus
lestari hingga kini. Dalam sejarahnya, bangsa Indonesiatidak memiliki
satu peradaban dengan tradisi baca-tulis (baca: keilmuan) yang kuat.
Dibutuhkan lebih dari sekedar kerja keras untuk menggapai hal itu. Nuzulul
Quran bisa menjadi jawaban untuk semua itu. Dengan merujuk pada Al-Quran,
adalah sahih untuk mengatakan bahwa menjadi seorang Muslim yang baik
adalah menjadi pembaca yang baik. Semoga momentum Nuzulul Quran rasanya
layak dijadikan pijakan awal transformasi budaya untuk lebih bersahabat
dengan bacaan dan tulisan.

Saudara-saudara sekalian yang dirahmati oleh Allah Swt.

Sebagaimana yang telah kita singgung barusan bahwa Surat al-‘Alaq ayat 1-5
adalah wahyu verbal pertama yang diterima Nabi saw. Dalam kisah pewahyuan
ayat-ayat ini, Nabi dikisahkan ‘dipaksa’ oleh malaikat Jibril untuk
membaca (iqra’/bacalah! ). Tapi saat itu Nabi merespon dengan menjawab
“Saya bukanlah seorang yang bisa membaca”. Ada sebuah analisis menarik
dari Tariq Ramadan tentang peristiwa ini. Dia menulis bahwa karena Nabi
adalah seorang ummi saat itu Nabi “mengungkapkan ketidakmampuan logis dan
bila kemudian Nabi mampu membaca hal itu karena spiritualitas yang
terkandung di dalam kalimat—‘dengan nama Tuhanmu’—membuka akses terhadap
dimensi lain ilmu pengetahuan”.

Setidaknya ada beberapa hal yang menarik untuk dibicarakan. Pertama adalah
bahwa Nabi saw., seorang ummi—tentang hal ini ada hikmah tersendiri dalam
ayat lain—‘dipaksa’ untuk membaca. Hal ini memberikan impresi betapa Islam
menekankan pentingnya membaca hingga dipilih seorang ummi, yang dipaksa
untuk membaca, untuk menyampaikan pesan-pesannya. Kedua, keharusan untuk
menyertakan spiritualitas dan keimanan dalam aktifitas pembacaan itu.
Tentu hal itu tidak berarti meminggirkan peran nalar dalam proses
pembacaan. Sebaliknya, rasionalitas (baca: ta’aqqul, tadabbur) adalah
komponen utama dalam proses memahami dan menafsirkan ‘bacaan’, namun hal
ini tidak boleh meminggirkan keimanan dan spiritualitas dalam prosesnya.

Selanjutnya, dalam analisis semantik bahasa Arab , pembuangan objek dari
kata iqra’ memiliki implikasi bahwa objek yang dibaca adalah
umum—disamping tentu saja Al-Quran sebagai kitab suci. Karenanya seorang
yang beriman pada Al-Quran tidak perlu membatasi materi bacaan selama
pembacaannya selalu menyertakan ismi Rabbik. Pada tataran epistemologis
frase bismi Rabbik dapat dilihat sebagai rambu-rambu dalam ‘membaca’.
Pembacaan tanpa menggunakan ismi Rabbik, katakanlah seperti filsafat
sekuler—jika istilah ini disetujui, dapat melahirkan proses dan hasil yang
berbeda dengan hasil pembacaan yang, sebutlah, Islami. Untuk sekedar
menyebut contoh, bagi seorang rasionalis keraguan adalah metode
epistemologis yang valid untuk mencapai kebenaran. Tapi hal ini ditolak
oleh Al-Quran (10:36). Perintah membaca pada ayat pertama surat Al-‘Alaq
dilanjutkan dengan isyarat terhadap pentingnya tulisan pada ayat keempat
dan kelima. Tentang kaitan antara ayat 3-4 dan ayat sebelumnya, Al-Biqa’i
menyatakan bahwa Allah mengajarkan pada Nabi saw. sekalipun saat itu
beliau adalah seorang ummi sebagaimana Allah mengajarkan ilmu pada orang
bodoh dengan pena. Disini terdapat penekanan terhadap pentingnya penulisan
sebagai sarana transmisi ilmu yang dalam Islam mendapat tempat yang
tinggi. Diantaranya adalah harus tersedianya sumber buku di Negara kita.

Dalam hal ini, berdasarkan data dari Intenational Publisher Association
Kanada, produksi perbukuan paling tinggi ditunjukkan oleh Inggris, yaitu
mencapai rata-rata 100 ribu judul buku per tahun. Tahun 2000 saja sebanyak
110.155 judul buku. Posisi kedua ditempati Jerman dengan jumlah judul buku
yang diterbitkan pada tahun 2000 mencapai 80.779 judul, Jepang sebanyak
65.430 judul buku. Sementara itu, Amerika Serikat menempati urutan
keempat. Indonesiapada tahun 1997 pernah menghasilkan limaribuan judul
buku. Tetapi, tahun 2002 tercatat hanya 2.700-an judul. Sangat jauh
apabila dibandingkan dengan produksi penerbitan buku tingkat dunia.

Belum lagi jika kita hendak kaitkan dengan angka rasio doktoral di setiap
Negara, Almarhum Nurcholish Madjid pernah menyanyangkan rendahnya kualitas
SDM bangsa kita di banding bangsa-bangsa lainnya, terutama dari
bangsa-bangsa Barat. Kita lihat saja, berdasarkan data internasional atas
angka rasio doktoral di setiap Negara dihitung per-satu juta kepala, yaitu
diantaranya: Mesir dari satu juta penduduk Mesir terdapat 400 doktor,
Indiadari satu juta orang India terdapat 600 doktor, Amerika terdapat
6.500 doktor, Israel(Yahudi) terdapat 65.000. Sedangkan Indonesia, dari
satu juta orang Indonesiahanya ada 75 doktor. Tentu untuk bisa bersaing
dengan bangsa-bangsa yang lain kita harus lebih meningkatkan SDM kita
khususnya dalam dunia pendidikan.

Semoga dengan momentum Nuzulul Qur’an ini, kita dapat tergugah untuk
meningkatkan kadar membaca kita, tentunya bacaan yang tidak melupakan
aspek spiritualitas yang terkandaung dalam kalamt “bismirabbika” tadi.
Dengannya kita dapat lebih mendekatkan diri kepada hidayah Allah swt.
Sebab apa gunanya ilmu pengetahuan yang kita miliki, jika ia hanya akan
menjauhkan diri kita dari keridlaan Allah swt. Wallahu’alam.

Categories: ARTIKEL ILMU
  1. tubanku
    October 5, 2007 at 11:11 am

    Selamat atas orbitnya blog yang santri dan santri ngeblog.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: