IBADAH HAJI DAN UMROH

November 15, 2009 1 comment

HAJI DAN UMROH (bagian 1)

Oleh:Abu Halwa

Bismullahirrohmaanirrohiim Alhamdulillaahirobbil ‘Aalamiin Washshsolaatu wassalaamu ‘Alaa sayyidinaa wa Maulaanaa Wa Qudwatunaa Kanjeng Nabi Muhammad SHOLLALLOOHU ‘ALAHI WA AALIHII WASHOHBIHII WASALLAM…Ammaa Ba’du..

Pada tulisan kali ini,kita akan membicarakan soal Haji dan Umroh dan hal-hal yang berhubungan dengan dua hal tersebut.Pembahasannya Insya Allah akan saya tulis beberapa bagian,mengingat mungkin tema kita kali ini agak cukup panjang.Mulai dari Ta’rif Haji dan Umroh,hukum,hikmah,kepada siapa haji diwajibkan,syarat sah haji dan seterusnya…

1- Ta’rif Haji dan Umroh.

HAJI.

Haji secara lughot atau bahasa berarti menuju.Menurut Syekh Kholil arti “Hajj” secara bahasa adalah Al qoshdu ilaa man yu’adzdzom atau menuju pada” sesuatu” yang diagungkan.Sedangkan menurut Syara’,Haji adalah Menuju ke Baitulloh Al Haram untuk melaksanakan Ibadah khusus dengan syarat-syrat yang sudah ditentukan.

UMROH.

Umroh secara lughot punya makna ziaroh atau bertandang/bertamu.Sedangkan secara syara’ ialah menuju ke Baitulloh al Haram diselain waktu haji untuk menjalankan ibadah makhsus dengan syarat-syarat khusus pula.

PERBEDAAN ANTARA HAJI DAN UMROH.

Haji dan Umroh berbeda dari soal waktu juga sebagian dalam hukum-hukumnya.Dari segi waktu misalnya,Haji harus masuk pada Asyhurun Ma’luumaat atau bulan-bulan yang sudah diketahui/ditentukan,tidak boleh diluar dari bulan-bulan tersebut dan tidak sah niat haji kecuali berada dibulan2 tersebut.Bulan-bulan tersebut adalah Syawwal,Dzul Qo’dah dan Sepuluh yang pertama dari bulan Dzul Hijjah.Sedangkan Umroh waktunya bebas kapan saja.

Sedangkan dari segi hukum ada sebagian yang berbeda,diantaranya dalam haji ada kewajiban Wukuf di Arafah,Mabit di Muzdalifah dan Mina,melempar Jumar/jumroh dan lain-lain.Sedangkan dalam umroh hal-hal tersebut tidak ada.

2- ZAMANU MASYRUU’IYYAATIHIMAA.

Masa di syari’atkannya haji dan umroh para ulama berbeda pendapat.Namun yang paling Rojih/kuat adalah pada tahun 9 Hijriyyah.Dalilnya adalah Hadits Kanjeng Nabi Al Musthofaa Shollalloohu ‘alaihi wasallam,Riwayat Bukhori & Muslim,ketika sebuah rombongan yang dipimpin Abdul Qois menghadap Nabi Shollallohu ‘alaihi Wasallam di awal tahun 9 hijriyyah.Mereka bertanya kepada Kanjeng Nabi,perintah-perintah agama apa saja yang wajib mereka lakukan.Nabi bersabda:”Aamurukum bil Iimaani Billaahi,Wa Iqoomishsholaati,Wa Itaa’izzakaati,Washoumi Romadloona,Wa An tu’thu Alkhumus minalmaghnam”.Aku perintahkan kalian beriman kepada Allah,mendirikan sholat,menunaikan zakat,puasa romadlon dan seperlima dari harta rampasan.

Dalil tersebut sekaligus sebagai jawaban bagi sebagian pendapat yang mengatakan bahwa haji disyariatkan sebelum tahun 9 hijriyyah.Kalau Haji diwajibkan sebelum tahun 9 hijriyyah,tentu Kanjeng Nabi pun akan menyebut kewajiban haji kepada rombongan Abdul Qois tersebut.

Insya Allah akan berlanjut ke masalah Hukum dan Dalil Haji…

Categories: ARTIKEL ILMU

DIROSAH HADITS VI

ISTILAH NAMA-NAMA DAN PEMBAGIAN HADITS

Dengan memperhatikan matan hadits,menyelidiki setiap rowi serta dengan meneliti sanad,yakni rangkaian para perowi mulai penerima pertama hingga yang terakhir sekali menerima hadits,maka para ulama ahli hadits memberi istilah nama-nama hadits serta derajat dan nilainya masing-masing sesuai dengan kriteria yang dibuat mereka.Hingga para muhadditisin membagi hadits sampai 57 macam.

1. HADITS SHOHIH

Shohih arti aslinya adalah benar dan oleh sebab itu tidak diragukan lagi bahwa hadits shohih adalah benar-benar hadits nabi SAW.Hadits tersebut mempunyai kekuatan wajibnya diamalkan serta memberi keyakinan untuk digunakan sebagai hujjah dan dalil menetapkan hukum.

Syarat-syarat hadits shohih ialah :

a- Sifat dari setiap rowinya harus benar-benar memenuhi kriteria sebagaimana sudah disebutkan dalam dirosah sebelumnya.Silahkan untuk kembali mengkajinya…

b- Setiap rowi dalam sanadnya bukan sebagai pendusta atau dianggap sebagai pendusta,tidak banyak salah atau kurang teliti,bukan orang fasik,bukan yang diragukan,bukan ahli bid’ah,bukan orang yang lemah hafalannya,bukan pula orang yang seringkali menyalahi rowi yang dianggap lebih kuat darinya.Demikian pula rowi tersebut wajib dikenal minimal oleh dua orang ahli hadits dizamannya atau dengan kata lain bukan orang yang majhul sejarah hidupnya.

c- Hadits yang dapat dinilai shohih harus terlepas dari dan tidak ada cacat atau ‘illatnya sedikitpun.Sebab jika ada cacat atau ber’illat maka termasuk hadits ma’lul,mu’tal,mu’allal.Keterangan hadits ini akan kita bahas pada catatan-catatan selanjutnya.

Hadits shohih terbagi dua macam.,yaitu shohih lidzaatih dan shohih lighoirih.

Shohih lidzaatih ialah keshohihannya tersebut memang dari dzatnya sendiri.artinya tanpa dibantu atau didukung dari keterangan-keterangan hadits lain.

Adapun hadits shohih lighoirih ialah keshohihannya tersebut karena dibantu atau didukung hadits lainnya yang berderajat hadits hasan.Artinya kalau ditilik dari sanadnya hadits itu sebenarnya derajatnya hasan,tetapi karena sebab terdapat keterangan-keterangan lain yang menguatkannya,maka derajat hadits tersebut naik menjadi shohih.Oleh karena itu hadits ini disebut shohih lighoirihi.

BERSAMBUNG MANING….ENTENANA BAE SAMPE PRAGATE..

Categories: ARTIKEL ILMU

DIROSAH HADITS V

April 27, 2008 Leave a comment

MENGENAI KATA-KATA HADITSUN SHOHIH ‘ALAA SYARTHIL BUKHORI ATAU ‘ALAA SYARTHI MUSLIM.

Kalau kita menemukan kata-kata diatas,maka menurut mudawwinnya,hadits itu dianggap hadits shohih menurut syarat yang ditetapkan oleh Imam Bukhori atau yang ditetapkan oleh Imam Muslim,dan tentu saja yang mengatakan demikian itu adalah mudawwin selain Imam Bukhori dan Imam Muslim.Syarat-syarat itu tidak saya kemukakan disini,tetapi secara umumnya saja akan diuraikan nanti dalam membicarakan hadits shohih.

Mengapa hanya dua imam diatas itu saja yang disebutkan persyaratannya untuk menentukan shohihnya sebuah hadits?..sebab memang dua imam hadits itulah yang mencantumkan hadits2 shohih dalam kitabnya masing-masing yang diakui validitasnya dikalangan ahlul hadits..Baik Imam Bukhori atau Imam Muslim sama-sama menetapkan persyaratan untuk keshohihan sebuah hadits.Maka persyaratan itulah yang dianggap baik dan terjamin ketelitiannya oleh Imam-imam hadits yang lain.Memang ada Imam-imam hadits lain yang membuat persyaratan shohihnya suatu hadits,tetapi pada umumnya tidak sekeras persyaratan yang dibuat oleh Imam Bukhori dan Muslim.bahkan adakalanya sangat lunak.

KATA-KATA ISNAD SHOHIH,ISNAD JAYYID DAN ISNAD LAA BA’SA BIH DAN LAIN-LAIN.

Mengingat tiap-tiap rowi juga menilik sekumpulan atau sejumlah para rowi yang merupakan isnad suatu hadits,maka dapatlah dinilai bagaimana keadaan isnad itu sendiri.Oleh karena itu adakalanya isnad itu shohih,jayyid (baik dan nilainya diabawah shohih),ada pula hasan (baik),laa ba’sa bih (tidak apa-apa atau bisa diterima dan nilainya dibawah hasan) dan ada pula yang dho’if (lemah). KALIMAT BI ISNAADIN SHOHIH ‘ALAA SYARTHIL BUKHORI ATAU ‘ALAA SYARTHI MUSLIM Kalau kita menemukan kata-kata seperti diatas,maka menurut mudawwinnya,hadits yang diriwayatkannya itu dengan menggunakan isnad shohih menurut syarat yang ditetapkan oleh Imam Bukhori atau Imam Muslim.

Bersambung maniiing…

Categories: ARTIKEL ILMU

DIROSAH HADITS IV

April 23, 2008 Leave a comment

KATA-KATA YANG SERING DIJUMPAI DALAM KITAB HADITS.

Pertama : kata ( ‘an ).

a- Contoh: ‘An Abi Hurairah ra…Artinya :”Dari Abu Hurairah ra”.Maksudnya ialah bahwa hadits yang ada dibelakang kata-kata tersebut adalah diriwayatkan oleh sahabat Rosululullah SAW yang bernama Abu Hurairah ra.

b- ‘An Abi Abdirrahman Abdillah bin Mas’ud,artinya :”Dari Abu Abdirrahman yaitu Abdullah bin Mas’ud”.Maksudnya adalah bahwa hadits yang ada dibelakangnya tersebut diriwayatkan  oleh Abdullah dan ia mempunyai anak yang namanya Abdurrahman,maka dikatakan Abu Abdirrahman atau bapaknya Abdurrahman.Sedangkan Abdullah sendiri adalah anaknya Mas’ud.Jadi Mas’ud itu adalah ayahnya Abdullah juga kakeknya Abdurrahman.

Mungkin ada diantara kita ada yang bertanya:”Mengapa tidak dikatakan:’An Abdillah saja,kenapa harus diembel-embeli nama anaknya yakni Abdurrahman dan juga kakeknya yaitu Mas’ud?…Sebabnya ialah nama Abdullah itu banyak dikalangan para sahabat.Ada Abdullah bin Umar,Abdullah bin Abbas,Abdullah bin Mas’ud dan lain-lain.maka untuk membedakan antara Abdullah yang satu dengan lainnya perlu sekali ditambahkan nama anak serta ayahnya atau tambahan anaknya atau ayahnya saja.

c- ‘An ‘Amribni Syu’aeb ‘an abiihi ‘an jaddihii…Artinya: dari ‘Amr bin Syu’aeb dari ayahnya dari kakeknya”..Maksudnya ialah bahwa hadits yang ada dibelakangnya tersebut diriwayatkan oleh ‘Amr bin Syu’aeb,ia menerima dari ayahnya yakni Syu’aeb,sedangkan Syu’aeb menerima dari ayahnya yaitu kakek ‘Amr.Jadi penerima pertama kali ialah kakek ‘Amr dari Nabi Muhammad SAW.Bukan ‘Amr dan bukan juga ayahnya.

Dengan menilik uraian yang tercantum dalam (a-),(b-) dan (c-) diatas,dapatlah kita mengerti bahwa belum tentu nama yang tertera dibelakang kata ‘An atu pasti penerima pertama dari hadits yang sabdakan,dikerjakan atau ditaqrirkan oleh Rosulullah SAW,atau dengan kata lain bahwa nama yang dibelakang kata ‘An itu merupakan sanad terakhir,tetapi dapat juga penerima kedua,ketiga dan selanjutnya.

Dalam contoh-contoh diatas misalnya Abu Hurairah ra (a-) atau Abu Abdurrahman (b-) yang namanya sendiri Abdullah itu memang penerima langsung atau rowi pertama.Tetapi ‘Amr (c-) bukan penerima langsung atau rowi pertama hadits,sebab rowi pertama adalah kakeknya,sedangkan Syu’eb ayah ‘Amr adalah rowi kedua dan ‘Amr sendiri adalah rowi ketiga.

Kedua : kata Wa ‘anhu serta wa ‘anha dalam permulaan.

Kata Wa ‘anhu arti sebenarnya adalah “dan darinya” untuk orang laki-laki,sedangkan wa ‘anha untuk perempuan.Maksudnya hadits yang ada dibelakang itu rowinya sama dengan yang sebelumnya.Misalnya hadits no.296,tercantum ‘An Abi Hurairah ra,jadi rowi haditsnya adalah abu Hurairah ra.Lalu pada hadits selanjutnya yaitu no.297 dicantaumkan kata wa ‘anhu,maka artinya ialah:”dan dari nya”.kata Nya disini tentulah Abu Hurairah ra yang dimaksud.

Demikian pula misalnya hadits no.631 tercantum disana kata ‘An Aisyah ra,artinya “dari Aisyah”,lalu pada hadits selanjutnya no.632 hanya dicantumkan kata wa ‘anha,artinya “dan dari nya”.nah Nya disini isinya adalah Aisyah ra.

bersambung maniiiing…

Categories: ARTIKEL ILMU

DIROSAH HADITS III

April 22, 2008 Leave a comment

CARA MENGENAL SIFAT-SIFAT ROWI HADITS

Untuk mengenal siapa para perowi hadits baik tentang sifat dan kehidupan mereka tentu kita harus mengetahui dan mengkajinya melalui buku-buku biografi yang banyak ditulis oleh para ulama.

Para perawi hadits sejak masa nabi SAW sampai dicatat atau dikumpulkannya hadits-hadits tersebut oleh para mukhorrij atau mudawwin,sudah pasti disebut-sebut keadaan pribadi rowi itu masing-masingnya.Baik rowi itu termasuk dari golongan sahabat,tabi’in dan orang-orang yang sesudah tabi’in.

Banyak kitab-kitab yang khusus menjelaskan tentang biografi para perowi hadits dari sejak kelahirannya sampai akhir hidupnya.Maka dari itu tak ada satupun biografi hidup seorang rowi yang terlepas dari sorotan ahlul hadits,karena hal itu sangat penting untuk bisa menilai derajat sebuah hadits.

Ada memang satu atau dua rowi yang tidak diketahui sejarah hidupnya ataupun terlepas dari catatan sejarah.Rowi semacam ini disebut rowi majhul yakni tidak diketahui atau dikenal.Maka jika ada hadits yang diriwayatkan oleh rowi yang majhul,haditsnya tentu tidak bisa diterima.

Dalam kitab-kitab yang mencatat keadaan para rowi itu,maka setiap seorang rowi wajiblah dikenal minimal oleh dua orang ahli hadits pada masanya masing-masing yang benar-benar mengetahui hal ikhwal rowi yang bersangkutan.

Para pengarang kitab yang menyusun dan menguraikan sejarah hidup para rowi beserta sifat-sifatnya yaitu antara lain :

a- Imam Ibnu Hajar Al-‘Asqolany.Beliau menyusun kitab-kitab sebagai berikut:
1. Tahdzibut-tahdzib,12 jilid dan memuat 12460 rowi.
2. Ta’jiilul-manfa’ah.1 jilid.memuat 1733 rowi selain yang ada di tahdzibut-tadzhib

3. Addurorul-kaminah.4 jilid,memuat 5320 rawi.
4. Al-Ishobah,8 jilid,memuat 11279.Kitab ini lebih spesifik menguraikan sejarah para sahabat Rosulullah SAW.
5. Lisanul mizan,6 jilid,memuat 14343 rowi.

b- Imam Adz-dzahabi.Beliau menyusun kitab bernama Mizanul-I’tidaal,3 jilid dan memuat 10907 rowi.

c- Imam Bukhori menyusun kitab At-Tarikhul-kabir.6 jilid dan memuat 9048 rowi.

d- Imam Ibnun nadin.Beliau menyusun kitab Al-Fihrist 10 jilid,7202 rowi.
e- Imam Abdul hayy Al-Hasani menyusun kitab Nuzhatul-Khawatir,3 jilid dan memuat 807 rowi.
f- Imam Ibnu Abi Hatim menyusun kitab Al-Jarhu wat-ta’diil,9 jilid,18040 rowi.
g- Ibnul Atsir,menyusun kitab Usudul-ghobah,4 jilid,memuat 6500 para sahabat rosulullah SAW.
h- Imam ASy-Syaukani,menyusun kitab Al badruth-tholi’,2 jilid dan memuat 441 rowi.

Beliau-beliau itulah yang digelari oleh para ulama sebagai Rijalul hadits atau para pahlawan hadits.

BERSAMBUNG DEUI…

Categories: Uncategorized

DIROSAH HADITS II

April 22, 2008 Leave a comment

SYARAT-SYARAT YANG WAJIB DIMILIKI OLEH ROWI.

Setiap Rowi hadits haruslah memiliki kriteria-kriteria sebagai berikut,agar hadits yang diriwayatkannya bisa dijadikan hujjah dan kuat.Karena ini sangat menentukan nilai dan derajat hadits yang diriwayatkannya.Diantara kriteria tersebut adalah:

a- Bulugh artinya ia sudah baligh menurut ketentuan agama.Artinya bahwa ia sudah baligh ketika meriwayatkan hadits yang bersangkutan,sekalipun waktu menerimanya masih kecil atau belum mencapai baligh.

b- Islam.artinya saat ia menyampaikan hadits ia dalam keadaan islam,walaupun waktu menerimanya masih beragama lain.

c- ‘Adalah.Yakni orang islam,aqil baligh (berakal) dan tidak terjangkit penyakit gila,juga tidak pernah melakukan dosa besar serta tidak membiasakan melakukan dosa kecil.

d-Dhobath.yaitu dapat menangkap apa yang diterima dan didengar,kuat hafalannya dan bukan pelupa,sehingga dimana dan kapan saatnyapun jika diperlukan maka ia dapat mengulang kembali dan menyebutkan hadits yang diterima olehnya itu dengan baik dan lancar.

e- Ittishol.yakni bersambung.artinya rowi yang menerima hadits itu bertemu langsung dengan rowi yang diatasnya,jadi seperti rawi G bertemu dengan F,rowi F bertemu dengan rowi E,E bertemu D demikian seterusnya hingga rowi A bertemu sendiri dengan Rosulullah SAW.

f- Ghiru syadz.yakni tidak ganjil.Maksudnya hadits yang diriwayatkan tidak berlawanan dengan hadits lain yang lebih kuat dan juga tidak berlawanan dengan Al qur’an.

Demikianlah beberapa syarat yang perlu dimiliki oleh setiap rowi hadits.Selain syarat-syarat tersebut diatas,untuk memberi nilai bahwa hadits itu benar-benar shohih atau hasan masih diperlukan syarat-syarat yang lain yang insya Allah kita akan bahas pada tulisan-tulisan selanjutnya.

Categories: Uncategorized

DIROSAH ILMU HADITS

April 22, 2008 Leave a comment

KITAB-KITAB HADITS DAN TINGKATANNYA.

Kitab-kitab hadits yang biasa disebut-sebut dalam mengemukakan alasan untuk menentukan sutu hukum agama itu banyak sekali.Tetapi yang masyhur diantaranya ialah Shohih bukhori,shohih Muslim,Jami’ Imam Tirmidzi,Shohih Ibnu Hibban,Shohih Ibnu Khuzaimah,Almuwaththo’ Imam Malik,Sunan Abu Dawud,Sunan Abu Dawud,Sunan Ibnu Majah,Sunan An Nasa’i,Sunan Al Baihaqy,Al-Mustadrok Imam Hakim,Musnad Imam Syafi’ie,Musnad Ahmad,Al-Mu’jam Thobroni (terdiri dari tiga macam,shoghir,awsath dan kabir),dan Shohih Ibnu ‘Awanah Rodhiyallohu ‘anhum wa wardhoohum ajma’iin.

Dari uraian diatas kita dapat mengetahui bahwa diantaranya ada yang disebut Musnad,sunan atau tidak menggunakan kedua kata tersebut.

Perbedaan antara musnad dan sunan adalah sebagai berikut:

Pertama : Musnad artinya yang disandarkan.Jadi kalau dikatakan sanad berarti rangkaian para perawi dari mukhorrij atau mudawwin paling akhir sampai rowi yang pertama langsung menerima dari Rosulullah SAW.Misalkan Musnad Imam Syafi’ie,maka itu artinya hadits-hadits yang dikumpulkan Imam Syafi’ie,sedang cara pengumpulannya ialah tiap-hadits yang diriwayatkan oleh sahabat secara berurutan,misalnya sahabat Ibnu Abbas,lalu Umar,Aisyah,Abu Hurairah dan demikian seterusnya.Oleh karena itu kitab hadits yang bernama Musnad,fasal-fasalnya tidak berurutan seperti kitab fiqih,misalnya fasal thoharoh dulu,baru fasal sholat,zakat,fasal haji.Kemudian dilanjutkan fasal Mu’amalat seperti jual beli dan lain-lain.Diteruskan dengan fasal Munakahat atau yang berhubungan dengan pernikahan,perceraian,fasakh nikah,ruju’ dan sebagainya.Kemudian masuk bab Jinayat atau pelanggaran undang-undang dan masing-masing hukuman yang wajib diberikan terkait dengan pelangaran-pelanggaran tersebut,lalu disambung dengan bab-bab fiqih yang lainnya hingga selesai.

Nah jadi jelas kitab musnad itu isinya tidak beraturan dan berurutan masalah demi masalah yang diketengahkannya.Bab-bab dalam musnad itu,fasal-fasalnya adalah perihal rowi-rowinya yang diutamakan,maka didalamnya terdapat fasal Aisyah,fasal Abdullah bin Umar,Abu Hurairah,Abdullah bin Abbas dan seterusnya dari mulai rowi yang terbanyak meriwayatkan hadits sampai yang paling sedikit.

Kedua: Sunan ialah kitab hadits yang bab-babnya diurutkan menurut urutan fasal-fasal yang berhubungan dengan fiqh,seperti bab thoharoh dulu,lalu mu’amalat,munakahat,jinayat dan sampai akhirnya menurut rangkaian urutan persoalan-persoalan fiqh.

Selanjutnya apabila kitab hadits itu bukan disebut musnad atau sunan,maka cara perurutannya adalah berbeda-beda.ada yang menyerupai musnad dan ada pula yang menyerupai sunan.

Bersambung…

Categories: ARTIKEL ILMU